كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ (رواه البخاري)
-
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Selasa, 15 November 2011
Sholat Istikhoroh
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ (رواه البخاري)
Jumat, 11 November 2011
Walaupun Terusir, Muslim Palestina Geliatkan Syiar Islam di Tanah Israel

Kamis, 10 November 2011
Apakah Salafi itu Sesat?

Dimanakah Para Pemuda Muslim?

Waktu-waktu Shalat

Mengerjakan shalat pada waktunya termasuk amalan yang paling dicintai oleh Allah. Sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu kepada Sa’ad bin Iyas. Beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya” kemudian aku berkata, “Kemudian apa?”. Beliau berkata, “Berbakti kepada kedua orang tua”. Kemudian aku berkata, “Kemudian apa?”. Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah” (HR. Bukhari [527] dan Muslim [85]).

Hadits di atas mengandung dorongan agar menjaga shalat di waktu-waktu yang telah ditentukan untuk melakukannya. Sedangkan yang dimaksud shalat pada waktunya adalah mengerjakannya di waktu yang telah ditentukan, dan tidak mesti di awal waktu sebagaimana pendapat sebagian ulama. Adapun orang yang shalat di luar waktu seperti karena tertidur atau lupa, maka tidak termasuk amalan yang paling dicintai, meskipun amalan itu juga dicintai (diringkas dari Fath al-Bari 2/13, dengan sedikit tambahan dari Syarah Nawawi, 2/153). Oleh sebab itu al-Bukhari rahimahullah membawakan hadits di atas di bawah judul bab ‘Keutamaan shalat pada waktunya’ di dalam Kitab Mawaqit ash-Shalah (lihat Sahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 122)
Waktu-waktu Terlarang Untuk Shalat

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami dari mengerjakan shalat dan menguburkan orang yang mati diantara kami di waktu tersebut : yaitu ketika matahari mulai terbit hingga meninggi, ketika bayangan tepat dibawah benda hingga matahari tergelincir dari tengah-tengah, ketika matahari condong ke arah barat akan tenggelam hingga tenggelam (HR. Muslim [831]).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan alasan larangan ini yaitu karena ketika matahari terbit ia berada di antara dua tanduk syetan, dan ketika matahari tepat di atas kepala api jahannam sedang dinyalakan, sedangkan ketika matahari tenggelam ia berada diantara dua tanduk syetan, dan ketika itulah orang-orang kafir bersujud. Shalat yang terlarang dilakukan pada waktu-waktu tersebut adalah shalat sunnah mutlak yang tidak memiliki sebab, sehingga di waktu itu boleh mengerjakan shalat bagi orang yang mau mengqadha’ shalat yang terlewatkan baik itu shalat sunnah maupun shalat wajib, atau shalat sesudah wudhu, dan shalat tahiyatul masjid (diringkas dari al-Wajiz, hal. 64-66).
Sekedar Untuk Mengingat

Beberapa saat yang lalu seorang teman bercerita, mengenai kabar saudara-saudaranya yang dulu sama-sama pernah duduk di majelis ilmu untuk menimba ilmu agama. Cukup memprihatinkan, rata-rata teman yang dia sampaikan beritanya ternyata telah mengalami perubahan drastis dari keadaan mereka sebelumnya. Mereka dahulunya, adalah para pemuda yang rajin mengikuti majelis ilmu dan duduk mendengarkan ceramah agama. Bahkan, beberapa di antara mereka adalah mantan tokoh-tokoh penggerak kegiatan dakwah di kampusnya. Tragis, gelar aktifis yang dulu mereka sandang kini telah berubah drastis.
Jenggot di dagu terpangkas habis, celana yang dulu diangkat di atas mata kaki -yang menandakan pengagungan terhadap Sunnah Nabi- kini telah terjurai menyentuh bumi, sosok yang dulunya sangat menjaga hubungan dengan perempuan non mahram kini telah terseret dalam aktifitas pacaran -bahkan dengan perempuan beda agama [!]-, pemuda yang sebelumnya akrab dengan majelis ilmu agama kini telah hanyut dalam dunia lain yang melalaikan dirinya dari tujuan hidupnya. Aduhai, semoga Allah mengembalikan mereka ke jalan-Nya…
Saudaraku, mengingat akan nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita merupakan perkara yang sangat penting dan banyak dilalaikan oleh manusia. Padahal, kita tahu bahwa semua kebaikan yang ada pada diri kita pada hakekatnya adalah anugerah dan karunia dari Allah ta’ala, sebuah nikmat yang harus kita syukuri dan kita senantiasa mohon kepada Allah agar meneguhkan kita di atas petunjuk dan bimbingan-Nya. Bukannya membuat kita malah menjadi sombong dan berubah menjadi hamba yang tidak bisa berterima kasih kepada Rabbnya. Perkara ini sudah sangat jelas sehingga semua orang niscaya bisa memahaminya dengan izin Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan senantiasa mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur/ingkar.” (QS. al-Baqarah)
Allah ta’ala mengingatkan kita untuk senantiasa meminta tambahan petunjuk dan keteguhan agar kita bisa menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan coba ini di atas rel yang semestinya. “Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” Dalam sehari semalam tujuh belas kali kalimat ini kita ucapkan, yang menunjukkan betapa besar kebutuhan kita terhadap pancaran cahaya petunjuk dan bimbingan-Nya. Kalaulah Allah tidak menunjuki kita, maka kita akan tenggelam dalam berbagai kegelapan yang berlapis-lapis. Kegelapan dosa, kegelapan bid’ah, kegelapan syirik, atau bahkan kegelapan kemunafikan yang menjalar ke berbagai sikap dan perilaku hidup kita. Sehingga dengan kegelapan yang demikian pekat itu, kita tidak bisa melihat kebenaran sebagaimana mestinya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah keluarkan mereka dari bebagai kegelapam menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong mereka adalah thaghut, yang akan mengeluarkan mereka dari cahaya menuju berbagai kegelapan.” (QS. al-Baqarah). Maka tidak ada orang yang selamat dari kegelapan-kegelapan ini kecuali orang yang diberi taufik oleh Allah untuk tegar dalam menghadapi ujian, tidak tergoda dan terlena oleh kepalsuan dunia, tidak goyah oleh gemerlap kemewahan, dan senantiasa mengingat bahwa hidupnya di alam dunia ini hanyalah sejenak. Yang digambarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam layaknya seorang pengendara yang singgah di bawah sebatang pohon kemudian pergi meninggalkannya.
Orang yang cerdas tentu tidak akan menjadikan pohon yang akan tumbang itu sebagai tempat tinggalnya, dia akan melanjutkan perjalanannya dan tidak terlena oleh sejuknya angin maupun rindangnya dedaunan. Karena perjalanannya masih jauh dan membutuhkan perbekalan yang cukup untuk mencapai tujuan dalam keadaan selamat. Saudaraku, cukuplah bagi kita firman Allah ta’ala (yang artinya), “Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” Siapkanlah bekalmu wahai saudaraku, sebelum mulut terkunci dan sekujur tubuhmu menjadi kaku…





